
Harus kuhentikan gerimis yang berguguran itu
Pada sebuah waktu
Atau kebisuan arti, pun hingga kini
masih terukir di batang pohon walau telah
kutenggelamkan dalam-dalam
Bersama mata emasmu dan hujan yang kau kirim
Amat manis waktu yang kau sisihkan,
Duhai Juli.
Hingga berlembar-lembar sunyi
hangus terbakar angin. Meski bahasamu mengalir
deras dalam sejuta bungkam yang tak diam,
tapi di pusat jantungku kau berdenyut
tanpa sedikitpun kata
Jadi biarkan hujan menabur
benih ceritanya sendiri. Aku tak mau jadi hanyut
Karena mencarimu di antara awan belukar
Saat jarak hanya berkata mata,
Tiada yang mengerti apa itu kelabu.
Bogor, 15 November 2009



0 komentar:
Poskan Komentar