Laman

Minggu, 20 Desember 2009

BUAS




Aku ingin jadi buas hari ini
Membunuh putaran waktu
Yang merongga di buih-buih nafasku
Membungkam segala diam seperti keangkuhan itu
Terkoyak-koyak dalam angan mati
Lalu sekali lagi kusulut segala kebiadaban
Menggelegar bagai gemuruh, hancurkan semua kekurangajaran
Jangan simpan semua rancu yang berkecamuk
Sebab langit pun tak pernah mau diam
Seperti bisu
adalah hidup yang memaksa dalam galau dan bangkai airmata
Tapi semestinya ini tidak terjadi!
Jadi kurobek saja lubuk sialan itu
Karena aku adalah panah yang melesat
Menebas angin mengoyak batas

Jangan halangi aku



Bogor, 21 Desember 2009

Gerimis Awal Desember




Desember, Desember
Segenap hening luruh dijerat waktu dan
musim kelabu.
Purnama semakin keruh
Mengambang di antara relung-relung kabut. Musimkah
yang mengirimnya tertawa dan meliuk di depan jendela,
di pangkuan awan
Angin disibak telapak kaki langit
Membanjur tanah retak musim kelabu
Lalu hari demi hari, drama musim kelabu –ricik hujan yang menyelip di
sela-sela awan kelabu dan semuanya– terbendung dalam
satu genangan
Dan di atasnya purnama bercermin:
Keringat-keringat dingin tumpah banjiri para pohonan
yang bertapa di kelam malam, membuat malam
jadi penuh keringat
Jadi butir-butir bening bergulir yang kaucoba
terjemahkan satu per satu


Bogor, 20 Desember 2009

Sakit Leher




Besi-besi apa ini, mengganjal persendianku
Seperti diracun laba-laba:
Sakitnya terus menjalar bercabang-cabang
Dari leher belakang, ke batang punggung, kedua belikatku,
Ubun-ubun, tulang baji juga pusing sekali
Hingga tulang hasta dan jari
Semua kaku beku!
Kalau saja pegal itu tahu,
betapa ujian, tugas, kegiatan..
Menggunung dan memelas agar aku mau
Selesaikan segera secepat mungkin sekarang juga
Hah
Apa aku kurang minum saja


Bogor, 1 Desember 2009

JULI, PADA LANGIT KELABU




Harus kuhentikan gerimis yang berguguran itu
Pada sebuah waktu
Atau kebisuan arti, pun hingga kini
masih terukir di batang pohon walau telah
kutenggelamkan dalam-dalam
Bersama mata emasmu dan hujan yang kau kirim

Amat manis waktu yang kau sisihkan,
Duhai Juli.
Hingga berlembar-lembar sunyi
hangus terbakar angin. Meski bahasamu mengalir
deras dalam sejuta bungkam yang tak diam,
tapi di pusat jantungku kau berdenyut
tanpa sedikitpun kata

Jadi biarkan hujan menabur
benih ceritanya sendiri. Aku tak mau jadi hanyut
Karena mencarimu di antara awan belukar
Saat jarak hanya berkata mata,
Tiada yang mengerti apa itu kelabu.



Bogor, 15 November 2009

Kamis, 17 Desember 2009

BULAN BIRU (2)





Pun jika memang dingin yang merengkuh malam
Aku dengan senang hati
biarkan ranting melagu sendiri
Tapi tetap badai angin banjiri segenap ketidakpastian
mengundang ragu lagi dan lagi

Aduhai, betapa semua membayang di telapak tanganku
Jejak langkah siluet membekas
Tinggalkan ukiran getir-getir garis langit
Letih berjuntai seperti sejumput nafas itu
Antara detik waktu yang merambat pelan,
seperti pekatnya malam
Kaki merintih sebab tanah saja
sudah dimakan malam

Ah, biar saja ku termangu
Menelusur garis-garis yang terukir di batang malam
Tanpa tahu buat apa untuk apa
Yang masih tak kumengerti, kenapa
Tak pernah kucoba mengerti
Apa yang disembunyikan bulan biru itu


Bogor, 30 Oktober 2009

Gerimis Akhir November




Gerimis di akhir November
Jendela masih dilumuti debu
Kata-kata bergemelut dalam pikiran
Betapa banyak sekaligus membadai
Tapi kenapa sulit dirangkai
Pun harus kubiarkan laptop terkurung beku di laci
Mungkin dia juga sama sepertiku,
Duduk termangu dengan sejuta puzzle berserakan
Yang mengalir deras dari kepalaku sendiri:
kekacauan
Dan aku mencari arti di dalamnya


Gerimis di akhir November
Ada gemericik dingin merayap menembus kaki
Ranting yang kesepian mengintip ragu
Di balik jendela kamar
Kusenyumi sendiri, kuajak masuk diam-diam
Sambil mengalun Canon D Major di atas tuts
Yang juga masih berpasir
Kabut basah menggantung tanya kenapa aku
Biarkan gerimis menculik semua kata-kata
Ketika penat menggumpal tenggorokanku,
Menyumbat mati segala imajinasi


Gerimis di akhir November
Cacing-cacing berloncatan di luar sana
Sepuluh jari diam dan membujur
Seperti bumi sudah tidak peduli lagi
Tapi memang siapa mau peduli?
Kamarku? Meja belajarku?
Atau kuterima saja getir yang bergejolak itu
Menderu dan bergemuruh setiap kucoba
menulis
Mengais arti di dalam pasir
Karena aku ingin jadi arti dari kesia-siaan


Gerimis di akhir November
Rinai hujan berbondong mengetuk jendela
Aneh rasanya harus duduk berjam-jam,
Berpikir keras tentang bagaimana cara
Menembus batas dan aturan: Imajinasiku selalu ingin bebas
Saat semua orang jadi antagonis
Selalu aku di ujung tanduk, memohon hujan
Agar datang menolong tapi
Tanganku yang menggigil dan biru
Ikut melebur tenggelamkan pikiranku sendiri
Siapa aku? Siapa hujan?
Bukan siapa-siapa. Semua bilang begitu


Jadi aku duduk lagi
di depan jendela, kurajut sehelai puisi
Untuk kukirimkan pada gerimis
Di awal Desember nanti


Bogor, 29 November 2009

SILHOUETTE




:duduk bersama burung gagak di dahan pohon
Sambil mengiris angin dan memilin dedaunan yang
saling berdesah
Wajahku tak lagi memagut
Tak lagi berhidung tua
Kala kulihat bayang membuntut di kaki, lepaskan semburat
kepalsuan sebuah arti


:retak garis nadi goreskan sepasang wajah masam
di atas pohon, tinggalkan sejuta tanya
Merapuh karena rancu!
Karena segala kekacauan yang kubuat sendiri
Pun jika memang ini seharusnya,
kunikmati dan kurengkuh saja sendiri semua


:burung gagak terbang tanpa perduli keberadaanku
Pudarlah kian lama bayangnya dibawa masa
Baik, kalaupun itu pilihan terbaik
Biar kuukir senyuman palsu di batang palsu
Yang terlahir dari jiwa palsu, dari kesadaran palsu
dan kaupun akan tertawa palsu:
bayangan utuh seluruh tidak pernah nyata.

(ketika suatu masa kau mengerti
yang mana yang nyata)


Bogor, 30 Oktober 2009

Jumat, 30 Oktober 2009

BULAN BIRU (1)




Bulan biru tengah sembunyikan sesuatu,
tidakkah kau lihat?
Beribu cahaya menyiratkan semburat angin
di lipatan kening basahku
Sedangkan malam sibuk bergumpal jejali awan
Bagaimana caranya tertawa? Waktu
semakin saja melejit
Kaki terasa berjari duapuluh:
Saling berkejaran melawan dingin yang tiada batas
Tanpa tahu peluh mencari apa
Gelap merengkuh apa
Ragu membingungkan apa

Ah, semu yang diangkuhkan bulan biru
tertawa pilu di antara gemericik dedaunan..
Berisik sekali!




Bogor, 29 Oktober 2009

Puisiku Berlayar Sendirian



Bulan bermuka rata
Mengajakku duduk di teras, pada malam yang panas itu
Bersama secangkir sajak dan seporsi paragraf
Dalam puisiku yang berlayar sendirian, dikisahkan
ratusan butir bintang berlarian
kesana kemari karena takut dicuri pagi dan
memintaku mengurung pagi serta fajarnya
Tanganku pun dengan ganas menjerat pagi
serta fajarnya ke sudut bawah kertas
Dan kembali
menulis.

Di ujung sana, hujan berbondong
mencariku. Resah berhamburan di dada,
bergejolak bagai langit malam yang semakin
legam
karena menahan tubuh gempal si Matahari Tua
“Lindungi kami dengan payung basahmu!” ujar hujan sambil
Berlutut ciumi bulu-bulu kakiku.
Kulempar senyum simpul buat hujan, lalu dibariskannya mereka
bersama bait-bait sialan ini. Rupanya
sedari tadi Matahari Tua mengintip. Matanya mengedip,
tersenyum manja tapi aku merasa mual;
Pun kugamit ia dengan pena
Walau tak sudi

Masih dalam puisiku yang
berlayar
sendirian, ratusan bintang yang tadi ingin pisah dari pagi
kini minta satukan dengan pagi. Tapi
malam hampir robek;
Tersinggung dan merengek minta ditulis juga
Maka setengah mati kujejalkan mereka lewat pori-pori
bait yang bertumpah darah, meski kutahu betapa sangat
betapa sulit tapi nyawaku adalah mereka juga dan perih yang
terasa
Adalah mereka pun aku juga.
Tak mungkin kuasa kuhalau badai seorang diri, bukankah begitu?
Jadi puisiku

masih saja berlayar sendirian. Dua belah tangan sudah buntung, kusangsikan
penuh
Bulan bermuka rata cemburu;
Lenyap membawa tangis menuju malam yang tak lagi
berlangit legam. Aku sendiri
memungut serpihan kata yang berceceran di lantai:

Semoga besok terulang lagi


Bogor, 23 okt 09

Kamis, 15 Oktober 2009

Amputasi



"aku sudah muak dengan kata-kata palsu yang murahan"

Amputasi semua
aku tak butuh kata-kata
jika akhirnya cuma jadi sampah
jadi bangkai busuk, sebab kau yang tertawa

Amputasi semua, kubilang
Redup dan redap menggertak habisi aku
jadi akulah yang jadi bangkai lagi
ditelan kata ditelan dusta ditelan air mata ditelan tawamu

Kau suguhkan kata demi kata
palsu demi palsu
di sepanjang kertas tak habis selama waktuku ada
selama kau tertawa:
"Ini permainanku, dan kau terjebak hidup-hidup!"

Kumohon amputasi semua
pikiranku sakit dan yang kau tau cuma tertawa
Yang kau tau, hidup adalah permainan
seperti kau kuliti aku hidup hidup

Selasa, 17 Maret 2009

Dan Kau Pun Berlalu



"Untuk mendapatkan teman, membutuhkan waktu satu tahun--tapi untuk kehilangan teman satu jam sudah cukup"

Kukira takkan begini
Sejak beribu rasa yang kau sembunyikan
hilang tertelan waktu dan wajah sayu
Berdiam, kau
Memendam semua yang jadi rahasia

Ini bimbang terus membayang
kelam, hitam
Sudikah kau hapuskan
meski hanya dengan senyuman?

Kutahu takkan mamou kutepis
tebal kabut yang kian menghalang
Namun jika saja pengakuan itu
tak kubuat ada, mungkin
keangkuhan ini akan pergi

Kembali dengan kata
Dengan maaf yang percuma
aku mati dan kau pun berlalu


Bogor, 5 Maret 2009

Rabu, 11 Februari 2009

Ketika Angin Hadir Sore Itu



(terinspirasi ketika pulang dari les sore-sore ^^)


apa yang telah menggiring senja
merasuk dalam kesibukan
ini. Siluet malam membayang kuat
menampakkan wujudnya seiring detak nyawa
yang masih dipinjamkanNya.

Berjalanlah ku di antara langkah tak berjejak
Langit di atas, ku ingin selalu menikmatinya
Apa yang kau nantikan
selain ketika senyuman ada di wajahmu?

Cukup bila jingga itu yang meniup harum hawa ketenangan
Sebab dalam hidup yang masih ternodai
hanya satu yang putih:
tetap nikmati
hidup
--setelah sore berlalu, malam berlalu

nafas tak mungkin untuk selamanya



Bogor, 11 Feb 09