Bulan bermuka rata
Mengajakku duduk di teras, pada malam yang panas itu
Bersama secangkir sajak dan seporsi paragraf
Dalam puisiku yang berlayar sendirian, dikisahkan
ratusan butir bintang berlarian
kesana kemari karena takut dicuri pagi dan
memintaku mengurung pagi serta fajarnya
Tanganku pun dengan ganas menjerat pagi
serta fajarnya ke sudut bawah kertas
Dan kembali
menulis.
Di ujung sana, hujan berbondong
mencariku. Resah berhamburan di dada,
bergejolak bagai langit malam yang semakin
legam
karena menahan tubuh gempal si Matahari Tua
“Lindungi kami dengan payung basahmu!” ujar hujan sambil
Berlutut ciumi bulu-bulu kakiku.
Kulempar senyum simpul buat hujan, lalu dibariskannya mereka
bersama bait-bait sialan ini. Rupanya
sedari tadi Matahari Tua mengintip. Matanya mengedip,
tersenyum manja tapi aku merasa mual;
Pun kugamit ia dengan pena
Walau tak sudi
Masih dalam puisiku yang
berlayar
sendirian, ratusan bintang yang tadi ingin pisah dari pagi
kini minta satukan dengan pagi. Tapi
malam hampir robek;
Tersinggung dan merengek minta ditulis juga
Maka setengah mati kujejalkan mereka lewat pori-pori
bait yang bertumpah darah, meski kutahu betapa sangat
betapa sulit tapi nyawaku adalah mereka juga dan perih yang
terasa
Adalah mereka pun aku juga.
Tak mungkin kuasa kuhalau badai seorang diri, bukankah begitu?
Jadi puisiku
masih saja berlayar sendirian. Dua belah tangan sudah buntung, kusangsikan
penuh
Bulan bermuka rata cemburu;
Lenyap membawa tangis menuju malam yang tak lagi
berlangit legam. Aku sendiri
memungut serpihan kata yang berceceran di lantai:
Semoga besok terulang lagi
Bogor, 23 okt 09