
Gerimis di akhir November
Jendela masih dilumuti debu
Kata-kata bergemelut dalam pikiran
Betapa banyak sekaligus membadai
Tapi kenapa sulit dirangkai
Pun harus kubiarkan laptop terkurung beku di laci
Mungkin dia juga sama sepertiku,
Duduk termangu dengan sejuta puzzle berserakan
Yang mengalir deras dari kepalaku sendiri:
kekacauan
Dan aku mencari arti di dalamnya
Gerimis di akhir November
Ada gemericik dingin merayap menembus kaki
Ranting yang kesepian mengintip ragu
Di balik jendela kamar
Kusenyumi sendiri, kuajak masuk diam-diam
Sambil mengalun Canon D Major di atas tuts
Yang juga masih berpasir
Kabut basah menggantung tanya kenapa aku
Biarkan gerimis menculik semua kata-kata
Ketika penat menggumpal tenggorokanku,
Menyumbat mati segala imajinasi
Gerimis di akhir November
Cacing-cacing berloncatan di luar sana
Sepuluh jari diam dan membujur
Seperti bumi sudah tidak peduli lagi
Tapi memang siapa mau peduli?
Kamarku? Meja belajarku?
Atau kuterima saja getir yang bergejolak itu
Menderu dan bergemuruh setiap kucoba
menulis
Mengais arti di dalam pasir
Karena aku ingin jadi arti dari kesia-siaan
Gerimis di akhir November
Rinai hujan berbondong mengetuk jendela
Aneh rasanya harus duduk berjam-jam,
Berpikir keras tentang bagaimana cara
Menembus batas dan aturan: Imajinasiku selalu ingin bebas
Saat semua orang jadi antagonis
Selalu aku di ujung tanduk, memohon hujan
Agar datang menolong tapi
Tanganku yang menggigil dan biru
Ikut melebur tenggelamkan pikiranku sendiri
Siapa aku? Siapa hujan?
Bukan siapa-siapa. Semua bilang begitu
Jadi aku duduk lagi
di depan jendela, kurajut sehelai puisi
Untuk kukirimkan pada gerimis
Di awal Desember nanti
Bogor, 29 November 2009