
Desember, Desember
Segenap hening luruh dijerat waktu dan
musim kelabu.
Purnama semakin keruh
Mengambang di antara relung-relung kabut. Musimkah
yang mengirimnya tertawa dan meliuk di depan jendela,
di pangkuan awan
Angin disibak telapak kaki langit
Membanjur tanah retak musim kelabu
Lalu hari demi hari, drama musim kelabu –ricik hujan yang menyelip di
sela-sela awan kelabu dan semuanya– terbendung dalam
satu genangan
Dan di atasnya purnama bercermin:
Keringat-keringat dingin tumpah banjiri para pohonan
yang bertapa di kelam malam, membuat malam
jadi penuh keringat
Jadi butir-butir bening bergulir yang kaucoba
terjemahkan satu per satu
Bogor, 20 Desember 2009



0 komentar:
Posting Komentar