
Pun jika memang dingin yang merengkuh malam
Aku dengan senang hati
biarkan ranting melagu sendiri
Tapi tetap badai angin banjiri segenap ketidakpastian
mengundang ragu lagi dan lagi
Aduhai, betapa semua membayang di telapak tanganku
Jejak langkah siluet membekas
Tinggalkan ukiran getir-getir garis langit
Letih berjuntai seperti sejumput nafas itu
Antara detik waktu yang merambat pelan,
seperti pekatnya malam
Kaki merintih sebab tanah saja
sudah dimakan malam
Ah, biar saja ku termangu
Menelusur garis-garis yang terukir di batang malam
Tanpa tahu buat apa untuk apa
Yang masih tak kumengerti, kenapa
Tak pernah kucoba mengerti
Apa yang disembunyikan bulan biru itu
Bogor, 30 Oktober 2009



1 komentar:
Blognya bagus. Layout notepad/buku, latar belakang biru. Menambahkan mood tertentu pada pembacaan puisi-puisinya.
Salam.
Posting Komentar